OBAT KEBOSANAN

“Life is never boring, but some people choose to be bored” (Wayne Dyer)

Norman Mailer, seorang penulis kenamaan Amerika pernah mengatakan bahwa “kebosanan, mungkin membunuh lebih banyak daripada perang”. Sebuah survey oleh Scientific America menunjukkan kebosanan merupakan penyebab utama depresi maupun penggunaan obat terlarang serta alkohol. Meningkatnya angka bunuh diri, juga seringkali dikaitkan dengan level kebosanan seseorang. Pada level yang tinggi, kebosanan membuat orang sulit bersosialisasi serta memiliki prestasi kerja yang rendah.
Nah, apa saja penyebab kebosanan yang paling sering? Berbagai penelitian awal, misalnya penelitian di tahun 1926 oleh Hudson David dari National Institute of Industrial Psychology menemukan kebosanan lebih banyak disebabkan oleh karena jenuh melakukan pekerjaan yang ‘itu-itu saja’. Riset pun berlanjut dan di tahun 1951, seorang psikolog Austria, Otto Fenichel mengemukakan bahwa kebosanan terjadi karena ‘when we must not do what we want to do, or must do what we do not want to do’. Disinilah, faktor motivasi kerja mulai dikorelasikan dengan kebosanan yang kita alami setiap hari.
Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika dikatakan 3 obat utama mengatasi kebosanan adalah: (1) meningkatkan perhatian; (2) menciptakan variasi serta (3) mengubah tantangan hidup.
Sudah terbukti sejak lama bahwa perhatian (attention) ternyata berhubungan besar dengan kebosanan. Dalam eksperimennya yang terkenal di tahun 1989, psikolog James Laird dan Robin Damrad-Frye dari Clark University menemukan adanya kesulitan terhadap perhatian membuat orang jadi mudah bosan. Karena itu, berbagai pelatihan meditasi, doa, kesadaran maupun ‘mindfullness’ termasuk salah satu yang disarankan untuk mengatasi aspek kebosanan dalam hidup. Bahkan, di beberapa perusahaan, disediakan ruangan untuk menenangkan diri dan ‘bermeditasi’ guna menghilangkan kejenuhan. Hal ini dilakukan agar setelah berhenti sejenak, mereka mampu bekerja dengan pikiran lebih segar.
Begitupun variasi kerja menjadi penting. Misalnya di beberapa tempat, karyawan dirotasikan. Dan untuk beberapa pekerjaan rutin, disarankan untuk diberi ‘bumbu penyedap’. Karyawan bank yang jenuh, umpamanya, dilatih bicara ramah kepada pengunjung sehingga tidak mengalami kebosanan. Begitupun supir truk jarak jauh disarankan menghitung papan tanda yang dilewati sehingga ada ‘mental challenge’. Ataupun, berbagai permainan dimasukkan dalam unsur pekerjaan sehingga membuat pekerjaan jadi tidak monoton.
Hal terakhir adalah perlunya meningkatkan aspirasi hidup. Sebuah pepatah mengatakan, “Jika kamu bangun tidur dan merasa bosan, boleh jadi itu disebabkan karena tujuan hidupmu tidak lagi menantang!”. Jadi, ciptakan tantangan, membuat goal baru serta menggali lebih dalam makna pekerjaan sekarang, bisa memberi gairah kerja yang baru. Mereka yang mengalami kejenuhan sangat disarankan untuk berhenti sejenak serta bertanya “mengapa saya melakukan pekerjaan ini? Apa yang menarik dari pekerjaan ini? Serta apa makna berharga di balik pekerjaan ini?”. Seperti diungkapkan oleh majalah Scientific Amerika, mereka yang menemukan makna terdalam dari pekerjaannya cenderung tidak mudah bosan karena tahu ‘alasan’ di balik pekerjaan yang mereka lakukan.
Akhirnya, menciptakan minat baru pun, bisa jadi variasi hidup yang dapat mengatasi kebosanan. Seperti dikatakan Dorothy Parker, “Obat untuk menghilangkan kebosanan itu mudah, yakni tingkatkan keingintahuan Anda. Tapi, kalau Anda pun tidak punya keingintahuan sama sekali, maka hal itu tidak ada lagi obatnya!”

Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Trainer, Speaker, EQ Motivator
Penulis buku-buku best seller
hrexcel@dnet.net.id
http://www.hrexcellency.com

Pro-Kontra Reward

Kolom KM
Wawan H. Poespoputro


Dari beberapa diskusi yang membahas topik Knowledge Management (KM), peserta sering menanyakan reward dalam pembentukan community of practice (CoP). Maka, timbullah semacam Pro dan Kontra apakah reward perlu atau tidak.

Cerita ini mungkin bisa menjelaskan reward dalam perspektif berbeda. Anak saya, Zano, yang masih berumur 4 tahun suka sekali bermain education games di laptop. Ia sering menunggu saya hingga larut malam hanya untuk membuka laptop dan bermain. Kesukaan Zano kadang membuat saya terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa laptopnya tidak saya bawa pulang.

Beberapa minggu lalu, Zano masuk sekolah TK. Saya khawatir kebiasaannya tidur malam akan membuatnya sulit bangun pagi. Yang saya lakukan mungkin tidak populer. Saya hanya memperbolehkan Zano bermain games pagi-pagi sekali sebelum ia berangkat ke sekolah. Harapan saya, bermain games mampu membangkitkan semangatnya. Ia bangun subuh lalu mandi, sarapan, dan membuka laptop.

Tak terasa aktivitas tersebut sudah berlangsung lebih dari seminggu. Dan, semuanya berjalan lancar. Peribahasa Inggris yang mengatakan: petik pikiran tuai tindakan, petik tindakan tuai kebiasaan, petik kebiasaan tuai nasib, menjadi kenyataan bagi Zano. Bisa dikatakan, bangun pagi saat ini menjadi kebiasaannya. Bahkan, sekalipun hari sabtu dan minggu libur, ia tetap bangun pagi.

Reward untuk bermain games mungkin adalah salah satu cara meningkatkan motivasinya. Motivasi seseorang bisa timbul karena mempunyai motif sesuai yang diharapkan. Reward mungkin saja salah satu motif meng-encourge peserta CoP. Pada dekade awal KM, beberapa CoP menggunakan sistem reward di perusahaan. Memang, tidak ada yang salah dalam pemberian reward. Namun, bila ini yang terjadi, tingkat kesadaran berbagi pengetahuan (knowledge sharing) di perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh reward yang digunakan.

Kendati KM sudah ada sejak dekade 1990-an, di negara kita gaungnya baru terasa tahun 2000-an. Kita mungkin saja baby KM yang masih membutuhkan reward ini. Di perusahaan besar seperti Buckman Lab, budaya sharing sudah menjadi kebiasaan sehingga reward tidak penting lagi. Di perusahaan tersebut sharing adalah bagian dari pekerjaan karyawan. Bahkan jika mereka tidak sharing, mereka dianggap bukan karyawan Buckman Lab.

Lambat laun reward tidak lagi dilihat dari nilainya tetapi merupakan prestise. Seperti para pemain sepak bola di piala Eropa lalu. Nilai pialanya pasti tidak seberapa dibandingkan pendapatan mereka per minggu. Akan tetapi kebanggaan, martabat, dan prestise menjadi motivasi mereka untuk meraih juara.

Di perusahaan, tingkat kesadaran karyawan untuk berbagi kadang harus digerakkan oleh motivasi seperti reward. Kebiasaan menyimpan informasi atau pengetahuan (knowledge) dilakukan beberapa orang yang menggunakan paradigma knowledge is power. Mereka lupa bahwa paradigma itu telah bergeser menjadi sharing knowledge is more powerfull.

Di masa depan sharing akan menjadi kebiasaan. Lihatlah anak-anak sekarang. Meski usianya belum mencapai 16 tahun, mereka sudah memiliki blog atau Friendster (social tool KM2.0). Kendati FS memiliki batasan usia minimal 16 tahun, toh teman anak saya, Anissa dan Lula, yang usianya belum 13 tahun sudah melakukannya. Lewat tools ini mereka saling berbagi cerita dan pengalaman (story telling) dengan teman-teman sekolahnya yang lain.

Bila sharing selalu dilakukan dan menjadi kebiasaan, maka manfaat akan timbul dengan sendirinya. Sharing pun akhirnya bukan lagi kewajiban, tapi kebutuhan. Mau mencoba?

Wawan H. Poespoputro
Konsultan KM-Plus Learning-Lead
wawan@learning-lead.com