Pro-Kontra Reward

Kolom KM
Wawan H. Poespoputro


Dari beberapa diskusi yang membahas topik Knowledge Management (KM), peserta sering menanyakan reward dalam pembentukan community of practice (CoP). Maka, timbullah semacam Pro dan Kontra apakah reward perlu atau tidak.

Cerita ini mungkin bisa menjelaskan reward dalam perspektif berbeda. Anak saya, Zano, yang masih berumur 4 tahun suka sekali bermain education games di laptop. Ia sering menunggu saya hingga larut malam hanya untuk membuka laptop dan bermain. Kesukaan Zano kadang membuat saya terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa laptopnya tidak saya bawa pulang.

Beberapa minggu lalu, Zano masuk sekolah TK. Saya khawatir kebiasaannya tidur malam akan membuatnya sulit bangun pagi. Yang saya lakukan mungkin tidak populer. Saya hanya memperbolehkan Zano bermain games pagi-pagi sekali sebelum ia berangkat ke sekolah. Harapan saya, bermain games mampu membangkitkan semangatnya. Ia bangun subuh lalu mandi, sarapan, dan membuka laptop.

Tak terasa aktivitas tersebut sudah berlangsung lebih dari seminggu. Dan, semuanya berjalan lancar. Peribahasa Inggris yang mengatakan: petik pikiran tuai tindakan, petik tindakan tuai kebiasaan, petik kebiasaan tuai nasib, menjadi kenyataan bagi Zano. Bisa dikatakan, bangun pagi saat ini menjadi kebiasaannya. Bahkan, sekalipun hari sabtu dan minggu libur, ia tetap bangun pagi.

Reward untuk bermain games mungkin adalah salah satu cara meningkatkan motivasinya. Motivasi seseorang bisa timbul karena mempunyai motif sesuai yang diharapkan. Reward mungkin saja salah satu motif meng-encourge peserta CoP. Pada dekade awal KM, beberapa CoP menggunakan sistem reward di perusahaan. Memang, tidak ada yang salah dalam pemberian reward. Namun, bila ini yang terjadi, tingkat kesadaran berbagi pengetahuan (knowledge sharing) di perusahaan akan sangat dipengaruhi oleh reward yang digunakan.

Kendati KM sudah ada sejak dekade 1990-an, di negara kita gaungnya baru terasa tahun 2000-an. Kita mungkin saja baby KM yang masih membutuhkan reward ini. Di perusahaan besar seperti Buckman Lab, budaya sharing sudah menjadi kebiasaan sehingga reward tidak penting lagi. Di perusahaan tersebut sharing adalah bagian dari pekerjaan karyawan. Bahkan jika mereka tidak sharing, mereka dianggap bukan karyawan Buckman Lab.

Lambat laun reward tidak lagi dilihat dari nilainya tetapi merupakan prestise. Seperti para pemain sepak bola di piala Eropa lalu. Nilai pialanya pasti tidak seberapa dibandingkan pendapatan mereka per minggu. Akan tetapi kebanggaan, martabat, dan prestise menjadi motivasi mereka untuk meraih juara.

Di perusahaan, tingkat kesadaran karyawan untuk berbagi kadang harus digerakkan oleh motivasi seperti reward. Kebiasaan menyimpan informasi atau pengetahuan (knowledge) dilakukan beberapa orang yang menggunakan paradigma knowledge is power. Mereka lupa bahwa paradigma itu telah bergeser menjadi sharing knowledge is more powerfull.

Di masa depan sharing akan menjadi kebiasaan. Lihatlah anak-anak sekarang. Meski usianya belum mencapai 16 tahun, mereka sudah memiliki blog atau Friendster (social tool KM2.0). Kendati FS memiliki batasan usia minimal 16 tahun, toh teman anak saya, Anissa dan Lula, yang usianya belum 13 tahun sudah melakukannya. Lewat tools ini mereka saling berbagi cerita dan pengalaman (story telling) dengan teman-teman sekolahnya yang lain.

Bila sharing selalu dilakukan dan menjadi kebiasaan, maka manfaat akan timbul dengan sendirinya. Sharing pun akhirnya bukan lagi kewajiban, tapi kebutuhan. Mau mencoba?

Wawan H. Poespoputro
Konsultan KM-Plus Learning-Lead
wawan@learning-lead.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: