Darwis Triadi : Mengajar Fotografi Dengan Logika dan Rasa

Naskah HC Edisi Agustus 2008
Rubrik Akademia

Untuk menjiwai sebuah obyek foto diperlukan pemahaman yang dalam. Proses inilah yang ditularkan Darwis kepada siswanya di Darwis Triadi School of Photography.

Jelang Ray Agung Pangesu

Di sudut persimpangan antara Bundaran Senayan dan jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tampak beberapa remaja dan dewasa berjalan keluar dari sebuah bangunan sambil membawa peralatan memotret. Mereka tak lain adalah murid-murid Darwis Triadi School of Photography, sekolah fotografi milik fotografer terkenal: Andreas Darwis Triadi.

Karya Darwis menyebar mulai dari majalah, kalender, poster, iklan, hingga company profile. Tapi, siapa yang menyangka bahwa pria kelahiran Solo, 15 Oktober 1954, ini mengawali kariernya hanya dengan berbekal kamera Nikon F yang dia pinjam dari almarhum temannya, Tafi. Jauh sebelumnya, sekitar 1976-1978, Darwis sempat berkarier sebagai penerbang. Namun, kekhawatiran ibunya membuat dia mengambil keputusan untuk berganti haluan. Hampir setahun ia menganggur hingga kemudian belajar fotografi secara otodidak dari beberapa literatur ditambah olahrasa.

Ketertarikannya pada fotografi bisa dikatakan dadakan. Dulu tidak terpikirkan olehnya menyukai apalagi menggeluti dunia ini. Bermula dari melihat fotografer asing memotret, ia lalu kepincut untuk mempelajarinya juga. “Belajar fotogarafi bisa dilakukan secara otodidak atau ikut pelatihan khusus. Kalau otodidak berarti harus punya bakat,” ujarnya. Bakat inilah yang menurut Darwis memengaruhi kecepatan belajar seseorang. Dia sendiri menjalani profesinya dengan beragam tipe pemotretan mulai dari dokumentasi sampai melayani pesanan untuk pembuatan buku, iklan, dan company profile.

Setelah malang-melintang sebagai fotografer profesional, sejak enam tahun lalu Darwis membuka sekolah khusus fotografi di Jakarta. Sekolah ini terbuka bagi siapa pun yang berminat mendalami fotografi. Ia mengungkapkan, niatnya membuka sekolah bukan sekadar gaya, tapi lantaran ingin berbagi ilmu. “Belajar fotografi tidak sulit. Yang penting mau menggunakan logika dan nalar,” kata suami Dewi, mantan peragawati era 70-an ini. Di matanya, seorang fotografer bukan sekadar menguasai teknik pemotretan, tapi juga mampu berpikir dengan logikanya. Karena alasan itulah, ia lebih banyak memberikan praktik dibanding teori kepada murid-muridnya.

Pertama kali membuka sekolah, ia meminta bantuan teman-temannya untuk mengajar. Mengenai pengelolaannya, ia mengakui, mulanya sempat kesulitan karena biaya sewa tempat lumayan mahal. Perlahan tapi pasti, kini Darwis Triadi School of Photography memiliki 2 cabang, satu di Jakarta dan satunya lagi di Surabaya.

Sistem pengajarannya dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu basic, intermediate, dan advance. Di luar itu Darwis juga menyediakan kelas khusus (special class). Untuk tahap basic lamanya belajar satu bulan; intermediate dua bulan, dan tahap advance juga dua bulan. Di tahap basic siswa diperkenalkan dengan kamera, pencahayaan, dan sudut pemotretan. Naik ke kelas intermediate, siswa masuk ke studio dan mempraktikkan cara memotret yang profesional. Sementara itu di tahap advance mereka belajar lebih detail lagi. Di sini siswa bebas memilih bidang fotografi yang mereka sukai, misalnya: produk, iklan atau traveling.

Untuk masuk ke Darwis Triadi School of Photography modal utamanya adalah keinginan untuk belajar. Di samping itu, tentu saja, tiap siswa disyaratkan memiliki kamera merek apapun. “Kamera merupakan alat pendukung untuk belajar,” ujarnya menegaskan. Diungkapkannya, sistem pendidikan di sekolah Darwis tidak sama dengan sekolah fotografi lain. “Di tempat kami tidak ada keharusan dari kelas basic harus melanjutkan ke tahap intermediate dan selanjutnya. Itu tergantung siswanya. Sekolah ini hanya memberi input pelajaran fotografi. Kalau senang fotografi siapapun pasti bisa dan mudah mempelajarinya,” katanya bersemangat.

Siswa yang belajar di sekolah ini pun tidak dibatasi usia. “Mulai anak-anak sampai yang berusia lanjut boleh belajar fotografi di sini. Selama mereka mau belajar, Darwis menerimanya dengan senang hati,” tuturnya. Jumlah siswa dalam setiap kelas dibatasi maksimum 25 orang. Saat ini total murid yang belajar di tempatnya mencapai 6.000 orang. Dalam melakukan praktik pemotretan, Darwis telah menyediakan model yang akan difoto. “Jadi, siswa tidak perlu repot mencari model lagi,” katanya, tandas.

Seorang fotografer yang menjiwai pekerjaannya, menurut Darwis, akan tahu bagaimana menghasilkan foto yang indah. “Menentukan angle yang baik tidak bisa diterangkan, tapi hanya bisa dirasakan. Dengan logika dan rasa, hasilnya akan jauh lebih bagus ketimbang menggunakan teknik semata,” ujarnya yakin. Berdasarkan pengalamannya memotret, penguasaan teknik bisa dikalahkan oleh rasa. “Banyak teman saya yang tidak menguasai teknik, tapi hasil fotonya bagus. Orang sering lupa akan hal itu,” ungkapnya memberi wejangan.

Dalam hal ini, ada tiga tahapan yang dia lakukan untuk mengolah kemampuan fotografinya, yaitu keberanian untuk mencoba, melihat lebih dalam, dan menggunakan perasaan. “Fotografi itu berkaitan dengan cahaya, jadi kita harus belajar melihat cahaya, dan belajar merasakan cahaya,” kata pria berkumis ini kepada HC.

Sesungguhnya, rahasia keindahan foto Darwis terletak pada kedalamannya saat proses sebelum rana kamera dijepret. Sebelum menyiapkan peralatan, ia mempelajari betul karakter obyek yang akan dibidik. Lebih jauh lagi, pendalaman karakter juga menyangkut pose dan arah cahaya yang dijatuhkan pada obyek. “Pemotretan yang berhasil terletak pada pemahaman karakter dan pencahayaan yang baik,” katanya tanpa bermaksud menggurui.

“Teknik memotret bisa ditiru,” tuturnya menambahkan, “namun jiwa yang keluar dari sebuah foto adalah milik sang fotografer.” Mungkin, karena itulah Darwis tak takut hasil karyanya ditiru orang lain. Tiga hal lain yang menurutnya penting dalam mengiringi proses belajar seorang calon fotografer adalah spirit, motivasi dan mental yang mumpuni. Tak berlebihan kiranya bila ia berharap orang-orang yang belajar di sekolahnya dapat mengaplikasikan semua pesan itu dengan baik.

Di luar itu, ia memimpikan sekolah fotografinya bisa langgeng dan suatu hari menjadi pusat informasi fotografi di Indonesia. Kepada fotografer muda, ia berpesan untuk terus berupaya dan bersyukur atas hasil yang diperoleh. “Semua ini pemberian Yang Mahakuasa. Jadi harus selalu disyukuri,” tuturnya sambil menghembuskan rokok dalam-dalam.

Satu Tanggapan

  1. Om Darwis, tolong beritahu saya mengenai bagaimana menanggulangi keraguan dan rasa takut untuk mencoba.

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: